Lebaran dan Mudik 1435 H (2014)

Lebaran dan Mudik.

Dua hal yang selalu melekat pada diri kita, sebagai seorang muslim yang berada di perantauan. Apalagi jika, pasangan kita, istri kita adalah sama-sama orang perantauan, pastinya hal ini (lebaran dan mudik) adalah sesuatu yang selalu dirindukan.

Bandung-Purwokerto (Bandung-Garut-Tasikmalaya-Ciamis-Banjar-Purwokerto), total tempuh 248 km.

Perjalanan awal mudik lebaran, dimulai dari rute ini. Rute Bandung-Purwokerto ini secara matematis berjarak 210 km (*yang terpajang di rambu-rambu lalu lintas di daerah nagrek). Waktu tempuh normal adalah sekitar 6-7 jam, sudah di tambah waktu istirahat setengah sampai 1 jam untuk ishoma.
Pada mudik kali ini, saya mulai berjalan pada hari Jumat, 25 Juli 2014, pukul 14.30 WIB. Dengan berbekal beberapa informasi dari internet, saya pun siap untuk menempuh perjalanan ini. Pada saat itu, baru saja terjadi peristiwa ambruknya jembatan di Ciamis.

Persimpangan Garut
Persimpangan Garut

Saya putuskan untuk melalui jalur Garut-Singaparna-Tasikmalaya, yang memang memiliki jalur relatif lebih sepi dan berkelok-kelok. But, saya secara personal lebih menyukai rute-rute seperti itu, walaupun sedikit lebih jauh, tapi kita bisa menikmati perjalanannya.

Purwokerto-Malang (Purwokerto-Yogyakarta-Wonosari-Pacitan-Trenggalek-Malang) 485 km.

Hari pertama lebaran saya habiskan di kampung halaman saya di Jatilawang, tepat di jalur selatan pulau Jawa, sehingga tidak aneh bagi saya untuk mendapati jalan di depan rumah macet parah. Lebaran diawali dengan sholat ied di kampung nenek yang berjarak 2 km dari rumah saya, dilanjutkan dengan tradisi ziarah ke makam eyang dan buyut, terus lanjut puter-puter ke tetangga-tetangga di kampung. Hampir setengah hari barulah saya dan keluarga bisa ngadem di rumah…*hawa di kampung saya sedikit panas.

Beres acara siang tersebut, saatnya istirahat untuk menabung stamina untuk trip berikutnya, ke kampung istri tercinta. Bobo ciang dulu…

Selepas magrib, setelah makan malam dan persiapan secukupnya (minuman berenergi sudah siap pastinya), maka perjalanan dimulai. START. Tepat pukul 19.00 WIB saya jalankan kendaraan untuk menyusuri jalur selatan pulau jawa hingga ke Yogyakarta. Tiba di Yogyakarta sekitar pukul 12.00 malam, langsung masuk ke Ring Road selatan, untuk mengarahkan kendaraan ke Wonosari. This is where the real adventure begins.

Wonosari
Wonosari

Jalur Wonosari-Pacitan belum pernah saya lewati sebelumnya. Hanya berbekal sedikt informasi yang lagi-lagi dari internet, dan beberapa kolega yang pernah melewati jalur itu, memberikan masukan bahwa jalur tersebut cukup menantang, berkelak-kelok, tapi jalannya lumayan bagus. Bisa dikatakan jarang yang melewati jalur ini. Pantas saja, saya dan istri (cuma berdua), membuktikan informasi tadi.

Masuk jalur Wonosari selepas Yogya sekitar pukul 00.30 WIB, kami masih beriringan dengan 4 mobil lainnya (semuanya dengan plat luat daerah). Lambat laun, satu demi satu kendaraan berhenti, entah sudah sampai ato berbelok. Akhirnya…memasuki jalanan selepas kota wonosari, tinggalah saya dan istri saja, yup..hanya satu mobil menempuh kurang lebih 2-2,5 jam perjalanan melintasi jalur yang bisa dikatakan sepi dari warung dan pom bensin (*noted –> jika mau melewati jalur ini, usahakan dalam keadaan full tank bahan bakar)…POM BENSIN baru kami temui di daerah pracimantoro…*leganya bukan main ketemu pom bensin di jam 02.30 dini hari…hahahaha. Dalam satu jalur Wonosari-Pacitan, saya dua kali melewati daerah perbatasan; batas DIY-Jateng dan Jateng-Jatim. Semuanya di daerah bukit dan hutan.

Di Pom Bensin Pracimantoro, kami rehat sejenak melepas lelah dan tegang (melewati kawasan hutan, sendirian, tanpa kawan, mau berhenti juga ketakutan, hehehe). Kurang lebih satu jam, meluruskan kaki dan mengistirahatkan mata yang sedari tadi tak bosan menatap jalan hutan, hehehe. Tidur dolooo…

Jam 03.00 dini hari, cuci muka, minum air putih dan camilan seadanya, kami lanjutkan perjalanan ke kota Pacitan. Ada yang lucu tapi juga bikin gregetan. Ketika melewati perbatasan jateng-jatim, sangat terlihat sekali perbedaan kualitas infrastruktur jalan yang dibangun. Wilayah Jateng, jalanan aspal, belum ada marka jalan dan minim penerangan. Sedangkan begitu kita masuk wilayah Jatim, jalanan aspal sudah lengkap dengan marka jalan kanan-kiri dan tengah, serta terdapat beberapa titik penerangan jalan. Kok timpang ya..??? Ya sudah lah lalui saja, bukan kewenangan saya juga ngurus jalan, hehehe.

Sambil menikmati jalur yang nyuaman *dan masih sendirian, akhirnya kita memasuki kota Pacitan, tepat pukul 04.00, dan meneruskan ke Trenggalek melalui jalan baru, Jalur Lintas Selatan. Yup, jalur ini tergolong baru, di maps google juga belum nampak,hehe..JLS, beberapa kali menjadi sorotan di media maya, karena keindahan rute serta pantainya. Rasa penasaran terhadap jalur inilah yang membuat saya menempuh jalur Pacitan-Trenggalek ini. Sayangnya..kami melintas jalur ini pada pukul 4 pagi, dimana masih gelap gulita..jadi pantai nya ga kelihatan, ehhehehe.

Perjalan kami teruskan hingga memasuki wilayah Trenggalek pukul 06.00 pagi. Jalur selanjutnya adalah Trenggalek-Malang, dimana waktu tempuh normal kurang lebih 3 jam. Akan tetapi, mengingat saat itu adalah lebaran kedua (2 syawal 1435 H), maka waktu tempuh molor menjadi 5 jam. Akhirnya kami finish di Kromengan, Malang pukul 12.15 WIB. Fyuh…

Malang-Purwokerto (Malang-Trenggalek-Ponorogo-Wonogiri-Solo-Yogya-Purwokerto) 580 km.

Setelah hampir satu minggu di Malang, saya dan istri diharuskan kembali ke Purwokerto dan lanjut Bandung…makaryo yoo. Perjalanan kembali ke Purwokerto, start pukul 06.00 WIB, saya sengaja memilih jalur yang berbeda, yaitu melewati Ponorogo-Solo. Jalur ini sedikit lebih jauh jika di bandingkan dengan jalur keberangkatan melalui Wonosari-Pacitan, dengan perbedaan jarak hampir 50 km. Rute ini cukup ramai, tidak seperti jalur Pacitan yang relatif sepi, tetapi pemandangan dan jalurnya yang bisa dikatakan lumayan untuk mengurangi jenuh selama di jalan.

Jalur Ponorogo
Jalur Ponorogo

Tidak semua jalur lintas Ponorogo mulus seperti di gambar, karena ada beberapa jalur yang masih dalam tahap perbaikan, dengan tanda *Hati-hati tumpukan material* di sepanjang badan jalan. Heuheu.

Sesampainya di Solo, saya sempatkan mampir ke rumah rekan saya, yang kebetulan masih berada disana. Sambil istirahat sejenak sebelum melanjutkan rute Solo-Yogyakarta-Purwokerto. Kurang lebih satu jam ngobrol ngalor-ngidul, saya lanjutkan perjalanan. Waktu normal Solo-Yogya sekitar 1,5 jam..yah..saya tempuh 2 jam tidak apa-apa..jalan santai. Rute berikutnya yang cukup bikin capek, mengingat perjalanan itu saya lakukan hari minggu, 3 Agustus 2014, yang sepertinya truk dan angkutan logistik sudah mulai beroperasi. Akhirnya, jalur Yogya-Purwokerto yang normalnya bisa di tempus dalam waktu 4 jam, molor menjadi sekitar 5,5-6 jam. Walhasil, sampai di kampung Purwokerto pukul 00.30 dini hari. Fyuuuuh.

Purwokerto-Bandung (Purwokert0-Banjar-Ciamis-Tasikmalaya-Bandung) 210 km.

Rute perjalanan akhir, yaitu kembali ke tempat dimana saya dan istri mencari dan menjemput rejeki dari Yang Maha Kuasa, yaitu ke kota Bandung. Yap…arus balik sudah mencapai puncak pada sabtu-minggu (2-3 Agustus 2014), saya putuskan untuk menambah waktu libur satu hari lagi, sambil rehat sejenak setelah perjalanan Malang-Purwokerto. Perjalanan kembali ke Bandung saya mulai pada hari selasa, pukul 04.00 dini hari.

Dengan mengawali perjalanan pada dini hari, hawa dingin dan jalanan cukup sepi mendukung untuk menikmati perjalanan tanpa hawa-hawa macet. Walaupun setelah sholat shubuh di daerah banjar, jalanan mulai kembali ramai oleh kendaraan-kendaraan yang mulai lalu lalang, ada pedagang, sepeda motor, dan juga pemudik lainnya yang telah jalan lagi dari tempat peristirahatan. Jalur Banjar-Bandung relatif lancar, dan saya sempat melewati jembatan di Ciamis yang runtuh, dan diganti dengan jembatan darurat. Sedikit antrian sebelum melewati jembatan ini, karena hanya bisa dilewati oleh kendaraan dari satu arah saja.

Tepat pukul 12.00, saya dan istri sudah mengantri di gate tol Cileunyi menuju Buah Batu. Ahhh…perjalanan 8 jam cukup menyenangkan, tanpa kemacetan berarti. Alkhamdulillah, dapat sampai dengan selamat di rumah siang itu, segera mandi dan istirahat.

Summary:

Total trip : 248 km + 485 km + 580 km + 210 km = 1523 km

Rute : Setiap trip dilalui dengan rute yang berbeda, sehingga menambah pengalaman dan meng-update maps yang ada dalam kepala..hehehehe.


3 thoughts on “Lebaran dan Mudik 1435 H (2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s